Jadwal CPR Jakarta

6-8 Juli 2018

Biaya pendaftaran Rp.1.200.000 (Umum)

Khusus anak anggota CNI Rp.1.000.000

 

Info : Elin 0812 8182 0585


      

Kesabaran Tingkat Dewa

Mbecak mas..tawaran seorang kakek memecah obrolan melalui HP  saat saya berjalan di jalan Sala Jogja tengah malam menuju hotel.

Sejenak aku berhenti melihat ke belakang bagaimana kakek itu bersama becaknya juga menawari pejalan kaki lain. Ia menggunakan baju putih biru berlambangkan partai dengan celana hitam lusuh kecoklatan dengan topi caping bertuliskan “Rahayu”.Ia menatap saya dengan mata berharap. Entah tiba tiba saya langsung menolak seraya melambaikan tangan tanda menolak.

Mboten Pak…

Saya juga melihat pejalan kaki di belakang saya menggelengkan kepala, kemudian saya amati lagi, ia mencoba menghampiri pejalan kaki lain yang masih jauh berjalan. Tampak guratan dan keriput terlihat jelas dengan cahaya lampu TL toko tutup  didepannya, saya menebak umurnya sekitar 70 an.

 

Tiba tiba ada perasaan menggemuruh di dada. Saya baru saja mengambil uang di ATM dan kakek itu memerlukan nafkah, kalau ada tukang becak tengah malam masih menawarkan jasanya, dalam tafsir saya pasti ia sedang butuh uang.  

Saya melambaikan tangan ke arahnya, dan secepat kilat ia datang menghampiri saya, wajahnya menyiratkan perasaan lega ada yang memanggil dirinya. Segera saya bertanya.

Saphir pinten nggih ?

Pitung ewu mawon mas.., tanpa berkata lain saya pun langsung masuk dalam becaknya.

Pikiranku melayang membayangkan uang 7000 untuk jarak 2,5 kilometer  yang begitu berarti di tengah malam buat kakek pengayuh becak, dimana manusia lainnya tidur memilih pulang kerumah dan berkumpul dengan keluarga mereka.

Semilir angin dingin mengibaskan rambut, sesekali wajahku melihat ke belakang untuk melihat wajah si Kakek, terlihat semangat dan penuh keiklasahan dengan kesabaran. (Kesabaran tingkat dewa).

Rasanya malam mini adalah kayuhan becak paling enak yang pernah saya rasakan.

Sampun pak..monggo” seketikan lamunanku buyar , saat kakek itu menyampaikan bahwa becaknya sudah tepat berada di parkiran hotel.

Seketika saya ingin memberi si kakek rezeki lebih, setelah turun saya mengeluarkan dompet dan memberikan uang duapuluh ribuan.

Tidak usah kembali pak” kata saya

Mungkin karena pendengarannya kurang, atau kata kata saya kurang jelas,atau memang mengambaikan kata kata saya, ia tetap membuka kotak di belakang becaknya dan mengeluarkan receh demi receh. Saya segera mengulang menggunakan bahasa jawa takut ia kurang jelas tadi.

“Pak,mboten sah diwangsuli’

Ia melihat ke arah saya sejenak lalu tetap mencari uang di dalam kotak sambil berkata, :Kulo wangsuli nggih?”

Kembali saya bilang, Mboten sah pak, pun mboten sah.

Ia menatap saya dan tampak tidak percaya. Lalu wajahnya seperti menyiratkan rasa syukur. Kemudian ia meluncurkan kalimat yang panjang dalam bahasa jawa yang intinya berterima kasih dan mendoakan mudah mudahan saya banyak rezeki.

Saat trenyu, Kakek ini benar benar memberi pelajaran luar biasa tentang hidup, bekerja, keiklasahan dan kesabaran tingkat dewa.

Saya yakin kakek tadi jujur tidak tinggal di daerah sekitar hotel setelah di perjalanan barusan ia mengaku rumahnya di daerah gamping, kurang lebih 15 km dari lokasi hotel ini. Itu artinya ia akan berjalan cukup jauh untuk kembali ke rumahnya menyusuri pagi buta. Yang ia punya hanya sebuah becak entah milik sendiri atau sewaan dan harapan dengan penuh kesabaran rezeki dari Tuhan. Ia tidak meminta minta, Ia malah berisi keras mengembalikan uang saya .

Setelah sang kakek menghilang dari pandangan,pengalaman emosional tadi saya ringkas dalam pesan SMS dan kirimkan beberapa teman dekat. Sahabat saya Farid membalas dengan SMS. “ Kakek itu kaya banget ya guh..melebihi kaya dari konglomerat, warren Buffe dll…”

Saya cukup lama merenungkan pesan pendek farid, Saya kemudian mengerti yang dimaksud “kaya” oleh farid adalah kakek tersebut merasa cukup dengan harga Rp 7000 rupiah, sehingga ia bermaksud mengembalikan uang saya, meskipun saya meminta uang itu untuknya semua.

Entah karena memang sudah tidak ada penumpang yang mau, tapi malam malam menawari setiap pejalan kaki yang jumlahnya bisa dihitung jari dalam kacamata saya adalah termasuk perbuatan ajaib dan luar biasa. Kalau fenomena kakek pengayuh becak  ini dianalisis dengan teori pemasaran yang canggih canggih mungkin tidak masuk. Nyatanya, karena si kakek berusaha, ia dipertemukan oleh tuhan dengan rezeki yang sudah dipersiapkan untuk menjemputnya. Ia diberi rezeki bukan karena becaknya, tetapi karena usahanya.

Seorang teman yang saya ceritakan kisah ini memprovokasi, “Ahh..kamu terlalu sensitif dan melankolis….. Kakek itu kan Cuma iseng saja saja mbecak tengah malam. Siapa tahu anak anaknya juga sudah menyokong hidup si Kakek dengan cukup”

Saya bilang, “Bisa jadi sih”. Tetapi tafsir yang saya pilih seperti tadi buat saya jauh lebih bermanfaat. Kakek itu jadi punya rezeki dan kita mendapatkan pesan untuk selalu bersyukur dan iklash serta belajar mengenai kesabaran tingkat dewa dalam menjalani hidup. (Teguh Hambudi).

 

Jogjakarta (sekitar 2 tahun yang lalu),

ok

alt

alt

alt

Konsultasi pembina / advisor

Leila
Hi, very good site you have got going here. my web page Harper Casimiro
Friday, 07 November 2014
dena kusuma
Tanya: Kalau mau gabung bagaimana caranya nya? Jawab: Caranya mudah kok, silakan ...
Tuesday, 22 May 2012